- Back up dulu data-data yang ada, ini saran yang lazim untuk mengantisipasi bila terjadi masalah dalam proses instalasi.
- Buatlah partisi terlebih dahulu. Ada baiknya membuat minimal 3 partisi. Satu partisi untuk Windows, satu partisi untuk Linux dan satu sisanya untuk semua data.
- Agar lebih mudah waktu akan menginstall linux, ada baiknya partisi dibedakan formatnya, misalnya untuk windows kita format NTFS, data lebih baik diformat dalam FAT (untuk mengantisipasi bila linux yang kita install tidak bisa mengakses format NTFS), sedangkan untuk linux tidak perlu diformat, karena pada saat instalasi linux, akan ada opsi untuk format partisi yang akan dipakai.
- Memilih distro linux. Dalam memilih distro, saya menyarankan untuk memilih distro yang ada live cd nya, karena salah satu fungsi dari live cd adalah untuk memastikan apakah hardware yang kita pakai dapat terdeteksi semua dan bisa berjalan dengan sempurna.
- Install Windows terlebih dahulu, soalnya sampai versi terakhir yang pernah saya pakai (vista), windows langsung menimpa boot file sebelumnya, sehingga kita tidak bisa masuk ke linux apabila linux sudah diinstall terlebih dahulu.
- Instalasi Linux. Sewaktu instalasi linux, kita akan ditanya partisi mana yang akan digunakan. Kalau kita menjalankan point no 3 diatas, maka kita tinggal pilih partisi yang belum terformat tadi. Linux membutuhkan minimal 2 partisi, satu partisi untuk sistem dan satu lagi digunakan untuk swap, kita tinggal bagi partisi yang kosong tadi menjadi 2.
- Pilihlah cara mempartisi manual, sehingga kita bisa menentukan pilihan sendiri untuk partisi yang akan digunakan, kemudian tentukan besar partisi yang baru. Partisi untuk swap biasanya membutuhkan satu sampai dua kali dari kapasitas RAM kita, misalnya RAM kita besarnya 512 mb, maka partisi untuk swap cukup 1 gb, dan sisanya gunakan semuanya untuk sistem linux.
- Bagi yang baru mau mencoba untuk menggunakan linux, saya mereferensikan distro Ubuntu dan turunannya, karena hampir semuanya menggunakan dialog box yang mudah dimengerti. Apabila bahasa inggris menjadi kendala, ada distro ubuntu yang sudah berbahasa Indonesia namanya BlankOn Linux (maksudnya blankon sebuah topi adat jawa).
Saturday, December 27, 2008
Sedikit Tips Dual Boot Linux & Windows
Friday, December 26, 2008
Kenapa sih harus dual boot Linux dan Windows
Memang ada banyak cara untuk mencari kenikmatan, tergantung dari kesukaan dan hobby masing-masing individu. Ada yang menyukai wisata alam, ada yang gemar sekali dengan wisata kuliner, bahkan ada pula yang menggemari wisata maksiat. Tetapi bagi saya wisata software juga tidak kalah menyenangkan. Saat yang menyenangkan adalah saat software yang kita install dapat berjalan mulus dan dapat digunakan sesuai dengan yang kita harapkan.
Kenapa juga sih dual booting kalau memang linux sudah mampu mencukupi kebutuhan berkomputer. Atau dibalik kalau memang windows sudah mumpuni kenapa harus pake linux. Jawabannya menurut saya, bukan menurut anda, tapi kalau ada yang sependapat saya senang berati saya termasuk orang normal. Kalau ada yang tidak sependapat saya juga senang, berarti saya mendapatkan ilmu tambahan dari anda yang tidak sependapat dengan saya.
Alasan saya masih tetap men-dual boot-kan linux dan windows:
- Saya masih menggunakan windows karena dikantor saya hampir semua pekerjanya masih menggunakan windows, sehingga file-file data yang dihasilkan semuanya masih berformat aplikasi berbasis windows.
- Sekarang sudah ada aplikasi Wine untuk menjalankan aplikasi berbasis windows di dalam linux, apa tidak cukup sehingga masih harus dual boot? Memang benar, tetapi ada beberapa aplikasi berbasis windows yang tidak berjalan sempurna di Wine nya linux, antara lain MS Excel. Masalah lain yang pernah saya hadapi saat melakukan pencetakan, setting halaman dan huruf bila dilakukan pencetakan pada aplikasi yang sama, antara linux dan windows terjadi perbedaan.
- Open Office sudah bisa membuka file-file MS Office dan bisa menyimpannya kembali dalam format MS Office. Tetapi sama seperti point nomor dua diatas, masih ada sedikit masalah yang timbul.
- Lalu kalau semua pekerjaan kantor sudah bisa diatasi dengan Windows, kenapa harus pakai linux? Kalau linux saya gunakan untuk keperluan pribadi, untuk memenuhi kegemaran saya berwisata software.
- Sulitnya mencari aplikasi berbasis windows yang Free, kebanyakan yang saya temui harus bayar, atau sekedar free trial .... cape deh. Hal ini berbeda dengan aplikasi berbasis linux yang hampir semuanya digratiskan.
- Saat menggunakan Linux saya tidak takut sama virus, karena yang saya tahu hampir tidak ada yang berminat untuk membuat virus yang berbasis linux mungkin karena banyaknya distro / turunan linux sehingga pembuat virus pun bingung akan menyerang linux distro yang mana, apakah harus membuat versi debian, fedora, mandriva atau suse. Disamping itu versi kernel yang mana yang akan diserang. Belum lagi resiko menghadapi komunitas pengguna linux yang cukup mumpuni dan banyak, bisa-bisa sipembuat virus yang dilumpuhkan sama komunitas. Maka sipembuat virus pun akan berkata ... capeee deeee...
- Untuk menghindari virus pada saat saya memindahkan data dari flash disk yang saya curigai membawa virus, saya akan booting dulu ke Linux sehingga sang virus tidak ikut mencemari komputer saya.
- Aplikasi linux hampir semuanya ringan, sehingga bisa dijalankan pada komputer berspesifikasi rendah, bahkan semakin kemari sudah banyak yang mengembangkan Desktop Environment yang ringan pada platform linux, sehingga dengan hardware spesifikasi rendah pun dapat leluasa menjalankan aplikasi yang lengkap. Berbeda dengan MS Windows yang semakin baru justru membutuhkan spesifikasi hardware yang lebih tinggi.
- Bila terjadi masalah pada Windows seperti virus yang membuat hang komputer, saya masih bisa masuk menggunakan Linux, sehingga pekerjaan saya tidak harus tertunda sampai orang IT membereskan masalah pada komputer saya. Begitu pula sebaliknya, bila Linux saya yang bermasalah karena ada bug sehingga tidak bisa masuk linux (selama ini belum pernah sih), saya masih tetap bisa mencari jawabannya diinternet menggunakan browser yang berbasis Windows.
Memang semua sudah ada pasarnya masing-masing, tapi kita sebagai konsumen tidak salah bila memilih yang paling menguntungkan buat kita, kalau kita merasa menggandeng kedua Platform tersebut menguntungkan kenapa kita harus menghindar.
Sunday, December 7, 2008
Zyrex Ubud Pakai Ubuntu 8.10 Dikawin sama Ubuntu Studio
Paling tidak enak jadi orang yang terlambat, apalagi kalau terlambat informasi. Saya baru tahu, kalau ternyata Ubuntu 8.10 yang dipanggil intrepid ibex atau domba padang pasir sudah mendukung netbook kesayanganku zyrex ubud. Kernel 2.6.27 yang dipakai sudah mendukung via chipset.
Jadi senang hati ini, langsung saja saya download tuh si Intrepid, karena bandwith yang saya pakai murah meriah, jadi sambil download saya tinggal tidur, lumayan juga nunggu sekitar 5 jam, jadi lebih baik ditinggal tidur (niat banget yah). Sebenarnya sudah ada yang jual CD/DVD distro2 linux tapi memang masih sedikit sekali di Indonesia. Bagi yang berminat membeli bisa mencari di Gudang Linux atau melakukan pemesanan via telpon.
Saya lanjutin yah, jadi setelah saya selesai download dan saya burn itu file ke CD, saya langsung install deh di netbook kesayangan saya (maklum cuma satu2 nya).
Instalasi berjalan lancar, tanpa harus mengubah pilihan Layar seperti pada instalasi ubuntu sebelumnya. Walaupun masih terdapat bug, namun semua tahapan instalasi dapat berjalan dengan mulus. Sambil menunggu proses instalasi selesai, saya melihat-lihat review dari versi ubuntu yang lain. Ternyata ada satu versi ubuntu yang membuat saya jadi lebih penasaran lagi, Ubuntu Studio.
Ubuntu studio adalah turunan/kembangan lain dari ubuntu yang memang mengkhus
uskan untuk aplikasi multimedia. Waah, nggak pake lama lagi, langsung saya download tuh file iso nya. Beneran lho saya jadi ketagihan buat mencoba-coba versi linux yang ada. Mudah-mudahan cara saya ini tidak membuat harddisk saya crash karena sering di format dan di install ulang.Selesai proses instalasi, seperti biasa si Ubud minta di restart. Setelah masuk kembali saya coba lihat apa sih yang baru dari si Intrepid Ibex ini. Sepertinya saya melihat tidak terlalu banyak perubahan dalam aplikasi yang disertakan. Tapi ada satu yang sepertinya cukup layak untuk di coba, ada satu aplikasi untuk membuat USB Startup Disk, aplikasi ini belum pernah disertakan pada ubuntu versi sebelumnya.
Belum sehari saya mencoba ubuntu intrepid ini, langsung saya coba untuk upgrade ke ubuntu studio. Lewat dokter google saya menemukan berbagai macam cara untuk bisa upgrade ke ubuntu studio, salah satu cara yang saya pakai akan saya coba ceritakan disini.
Pertama kita booting dulu, sampai kita masuk ke Ubuntu intrepid, lalu untuk mendapatkan repository dari ubuntu studio, masukkan DVD yang berisi installer Ubuntu Studio, kemudian buka aplikasi Terminal, dan masukkan perintah berikut :
# sudo apt-get install aptoncd
Setelah itu, untuk melakukan instalasi upgrade ke ubuntu studio masukkan perintah dibawah ini:
# sudo apt-get install ubuntustudio-desktop ubuntustudio-audio ubuntustudio-audio-plugins ubuntustudio-graphics ubuntustudio-video ubuntustudio-artwork ubuntustudio-gdm-theme ubuntustudio-icon-theme ubuntustudio-look ubuntustudio-session-splashes ubuntustudio-sounds ubuntustudio-screensaver ubuntustudio-theme ubuntustudio-wallpapers usplash-theme-ubuntustudio
Proses upgrade ini berjalan sekitar 30 menitan, tergantung besar bandwith (dalam proses instalasi, linux juga melakukan update) dan hardware yang kita pakai. Setelah proses selesai, keluar dari terminal dan lakukan restart. Maka jadilah desktop kita suatu perpaduan antara ubuntu 8.10 original alias si Intrepid Ibex yang dikawinkan dengan Ubuntu Studio, Keren bangetsss.
Aplikasi yang disertakan dalam ubuntu studio, benar-benar untuk profesional artist, mulai dari graphic, audio dan video, yang kesemuanya komplit dari mulai viewer/player, sampai aplikasi editing. Dan tetap masih gratis plus legal.
Kecintaan saya kepada opensource semakin bertambah deh. Saya semakin sering pakai linux dibanding microsoft. Walaupun ditempat saya bekerja, komputernya menggunakan dual boot Vista dan Linux, saya lebih suka menggunakan linux karena lebih enteng dan bebas virus, jadi saya tidak pernah takut transfer data pakai usb flash disk, walaupun dikantor sedang terjangkit virus dan trojan.
Bebaskan dan Legalkan dirimu dengan open source. Merdeka !!!!.
Sunday, November 30, 2008
Makin Keren Pakai Linux

Dari hasil coba-coba semua versi desktop environment Linux Mint, saya baru tahu kalau ternyata versi desktop environment dari Linux itu cukup banyak pilihannya, ada GNOME, KDE, Xfce serta LXDE. Memang tidak semua Distro linux mengembangkan keempat desktop environment tersebut.

Desktop environment lah yang membuat tampilan layar linux tidak seperti dulu, dimana pada awalnya linux hanya menggunakan terminal/konsol berupa perintah-perintah (command line) yang memang harus dimengerti oleh si pengguna, sama seperti DOS nya Microsoft jaman dulu.
GNOME dan KDE adalah dua versi yang lazim dipakai oleh linuxer newbie seperti saya, karena mudah dalam instalasi dan cantik dalam penampilan disertai efek-efek yang menurut saya keren banget, dari mulai efek air, kubus, transparan (model aeronya windows vista) belum lagi tampilan icon-icon yang bisa diganti warna dan bentuknya, waahh pokoknya banyak deh, kalau belum dicobain belum tahu dan nggak akan penasaran. Tapi kalau sudah kita cobain, linux bisa bikin penasaran dan kecanduan.


Saat ini, KDE sudah mencapai versi 4.1 dan GNOME sudah merilis versi 2.24 dengan tampilan yang semakin cantik, disertai fitur-fitur modern.
Disamping kedua versi tersebut diatas, ada lagi versi Xfce yang lebih ramah hardware karena membutuhkan memori yang tidak terlalu besar cukup dengan 200 mb sehingga komputer dapat berjalan dengan lebih cepat tanpa melupakan faktor keindahan dan kekuatan dari aplikasi-aplikasi pendukungnya.Bila kita merasa Xfce masih kurang ringan, ada lagi versi LXDE yang merupakan versi desktop yang sangat ringan yang hanya menghabiskan memory sebesar 30 mb sehingga akan sangat santai berjalan pada komputer yang hanya memakai RAM 256 mb.

Sebenarnya masih ada lagi desktop environment diluar keempat yang saya sebut diatas, masih ada ROX, Étoilé, EDE bahkan yang lebih enteng lagi hanya berupa window manager (tidak full environment).
Kelebihan lain dari aplikasi-aplikasi linux adalah kemampuannya untuk lebih cepat memenuhi kebutuhan dari para penggunanya, karena didukung oleh komunitas linux yang ikut mengembangkan aplikasi-aplikasi tersebut, ditambah lagi dengan ketersediaan sumber aplikasi tersebut untuk dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.
Dengan tidak bosan-bosannya, saya menghimbau teman-teman yang masih menggunakan software bajakan, segeralah beralih ke linux atau open source lainnya. Jadilah bagian dari aplikasi yang anda gunakan, walaupun hanya sekedar memberi bug report pada komunitas distro pilihan kita. Sekarang ini kecenderungan pemakaian open source sudah cukup meningkat, bahkan banyak lingkungan bisnis yang sudah menggunakannya, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa datang, para calon pekerja yang mengerti dan paham linux lah yang dicari.
Monday, July 14, 2008
Perkembangan Teknologi Informasi di Tanah Air: Memandang Penjajahan di Jaman Modern
Jika kita selalu menengok kebelakang, jika kita selalu belajar dari kesalahan masa lalu, dan jika kita mau berjuang lebih keras lagi, kondisi sekarang ini tidak akan berlarut-larut. Kita dijajah 350 tahun, memalukan. Lebih memalukan lagi bahwa kita ini membiarkan lagi bangsa ini dijajah kembali oleh imperialisme modern.
Open Source vs Non Open Source
Perdebatan antara penggunaan Open Source dan Non Opern Source kadan membuat diri ini menangis. Sungguh jika kita melihat lebih jauh lagi dimensi perdebatan ini, kita dapat melihat makna didalamnya dengan lebih jelas. Terlepas dari alasan dari kedua belah pihak , sadarkah kita semua bahwa tidak ada bedanya membeli software OS Jendela dengan menyerahkan upeti dijaman penjajah Londo. Anda boleh saja tidak setuju, tapi pada kenyataanya kita ini memberikan uang kepada orang asing, dengan sukarela, menggunakan uang dari kekayaan bumi tercinta ini kepada perusahaan OS Jendela tersebut yang sama sekali tidak pernah perduli terhadap nasib bangsa ini. Kita ini dijajah namanya. Tidak ada bedanya dengan penjajahan Londo jaman pra 1945. Hanya saja modus operandinya yang lain.
Jika kita ingin merdeka dan menjadi bangsa yang besar, kita harus berjuang dengan keras. Memang berat, namun mana ada bangsa besar terbentuk tanpa perjuangan yang berat. Tidak menggunakan OS Jendela, memang berat karena harus berubah sistem dan membiasakan diri terhadap hal yang baru. Waktu terbuat untuk belajar, dana terbuang untuk membiasakan diri. Namun keuntungan akan didapat di akhir nanti.
Para pejuang kemerdekaan menyerahkan nyawa mereka demi bangsa ini untuk meraih kemerdekaan yang mereka tahu pasti belum tentu mereka rasakan. Cita-cita meraih kehidupan yang lebih baik menjadi semangat mereka untuk terus maju. Bagaimana dengan Kita ? Apakah sudah sepadan perjuangan yang kita lakukan untuk memajukan bangsa ini ? Apakah kita masih menggunakan alasan-alasan sebagai pembenaran terhadap kondisi ini ?
Telpon Tanpa Kabel
Di dunia per hape-an juta tidak kalah hebat laju penjajahan ekonomi di negara ini. Berapa pengguna handphone di Indonesia ? Sangat besar jumlahnya. Jika kita asumsikan 50 juta pengguna yang menghabiskan 50ribu tiap bulan, maka ada 2.5 Triliun rupiah. Masalahnya adalah kebanyakan perusahaan tersebut dimiliki oleh asing. Jika hanya 25% keuntungan saja yang masuk ke Indonesia, hanya ada 1T rupiah. 1,5 T rupiah sisanya lari keluar negeri. Belum lagi dengan kebiasaan berganti hape dan membeli hape setiap ada model baru muncul, yang notabene porsi perusahaan penghasil made in Indonesia masih sedikit sekali porsinya.
Bayangkan uang yang kita setor ke negara lain. Itu angka yang diasumsikan dengan angka yang rendah. Lagi-lagi kita ini memberikan upeti ke penjajah ekonomi. Senang atau tidak senang, memang begitulah kenyataannya. Negara-negara lemah sebenarnya terus dijajah.
Jika kita pengguna handphone, dan provider kita dimiliki negara lain opsi berpindah belum tentu cocok. Namun minimal kita tidak memboroskan pulsa kita untuk hal-hal yang tidak perlu. Yah, tulisan ini sekedar mencoba menggugah kesadaran. Semoga bangsa ini bisa melepaskan diri dari tangan-tangan penjajahan modern. Berat dan penuh tantangan, namun bukan berarti mustahil.
Tulisan ini disadur dari blognya Pak Winny, makasih ya pak atas pencerahannya.



